NOVANMEDIA
Per 14-05-2014: Kolektor 708 Media (Koran dan Tabloid) se-Indonesia (belum termasuk Majalah)

Majalah Bandung: Didominasi Majalah Berbahasa Sunda dan Majalah Persib

[REVISI] Dibandingkan dengan media massa (cetak) berformat koran dan tabloid, media berformat majalah yang diterbitkan di kawasan Bandung Raya tampaknya dapat dihitung dengan jari. Hal itu pun dapat dimaklumi mengingat rekam jejak (track record) per-majalah-an di kawasan ini.

Pada masa Orde Baru, Mangle merupakan salah satu dari sebelas media ber-SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) yang masih bertahan. Sebagai catatan, Mangle menjadi satu-satunya media berformat majalah pada masa itu. Sepuluh media lainnya ialah koran Pikiran Rakyat, koran Gala (berubah menjadi Galamedia), koran Bandung Pos, koran Mandala, koran Giwangkara, tabloid Galura, tabloid Kudjang (berubah menjadi Harian Sunda), tabloid Mitra Bisnis (sebelumnya bernama Mitra Desa), tabloid Hikmah, dan tabloid Pelajar.

Sebagai catatan pula, pada masa Orde Baru ini, Radio Oz 103 FM (kini 103,1 FM) hendak menerbitkan majalah POZ, tetapi batal karena permasalahan SIUPP. Maklum, saat itu SIUPP tidak mudah. Selain itu, majalah Cakakak yang terbit pada akhir tahun 1980-an dihentikan penerbitannya karena terkendala SIUPP pula. Kini, di tahun 2010, majalah Cakakak telah diterbitkan kembali.

Memasuki era Reformasi (terhitung sejak 21 Mei 1998), media berformat majalah pun masih sedikit. Selain Mangle, majalah Gema Mahardika, majalah anak Diba, majalah anak Ekspresi Anak, dan majalah remaja Grey sempat terbit. Tentu saja, dalam catatan koleksi saya, keempat majalah itu di luar majalah-majalah Islam (seperti Percikan Iman, Risalah, dan sejenisnya), majalah intern instansi negeri/perusahaan swasta (inhouse magazine), majalah kampus, dan majalah gratis (seperti NinetyNiners dari Radio NinetyNiners 99,9 FM, kini 100 FM dan Suave). Kalau mau “disejajarkan”, bolehlah majalah Percikan Iman dan majalah NinetyNiners dikeluarkan dari pengecualian itu. Maksud saya, kriteria-kriterianya yaitu bahwa media tersebut merupakan media yang diedarkan secara luas (baca: diperjualbelikan di lapak-lapak koran).

Sekarang ini, setidaknya dalam 3-5 tahun terakhir, pada umumnya majalah-majalah yang terbit di kawasan Bandung Raya bersegmen “Bahasa Sunda” dan “Persib”. Majalah-majalah berbahasa Sunda misalnya Mangle, Cupumanik, Sunda Midang, dan Cakakak. Lalu, majalah Persib seperti Persib Euy!, Nu Aing, PersibMagz, Bobotoh (sebelumnya berformat tabloid), dan Make Manah. Oh ya, jangan lupakan pula majalah lowongan kerja Karir-Up! dan dua majalah musik (Album Pro dan Top 40) serta Entrepreneur Indonesia dan Training.

Berkaitan dengan majalah Persib, bagi pihak lain menyebutnya sebagai media komunitas untuk bobotoh atau suporter Persib. Namun, bagi saya, media Persib itu merupakan media segmented lokal. Ya, tidak ada bedanya seperti media-media bersegmen otomotif, musik, pariwisata, dan sebagainya. Pokoknya, tidak ada kamus sebagai media komunitas.

Sayang, semua majalah Persib itu sudah tidak terbit lagi. Terlepas dari permasalahan investasi, menurut pengamatan saya selaku kolektor media, “kegagalan” media Persib terletak pada “kesalahan dalam mengemas informasi terbaru Persib dan meninggalkan sejarah (mantan) pemain dan tim Persibnya sendiri”. Para konseptor dan pengelolanya terlalu asyik dengan komunitas bobotoh. Padahal bobotoh merupakan konsumennya dan Persib merupakan content-nya. Bukan sebaliknya.

Sementara itu, para konseptor dan pengelola majalah-majalah Sunda merupakan orang-orang yang idealis dalam memelihara Sunda. Hanya itu. Salut!

Sungguh sepi kehidupan per-majalah-an di kawasan ini meskipun “mati satu, tumbuh seribu” untuk kemudian mati lagi. Hanya sekadar menyemarakkan saja.

Baca juga:

Penerbit Baru Media di Bandung Kurang Berani

Media yang Diterbitkan di Kawasan Bandung Raya

6 Tanggapan to “Majalah Bandung: Didominasi Majalah Berbahasa Sunda dan Majalah Persib”

  1. Termakasih majalah kami tertulis (gema Mahardika), alhamdulilah sampai kini masih terbit walau “merangkak” disebabkan terbatas ke beberapa instansi saja di kota kota besar, dan sudah menyeberang ke Jambi, Palembang, Babel, Kalteng, Kaltim. Edisi baru Jili-Agustus segera terbit di awal Juli 2012. Sayang belum berani dipasarkan ke bursa media di Cikapundung, karena berbagai alasan dan takut dijadikan “media jojodog”.

    Sonni Hadi

    • Pantas, rasa-rasanya saya mengenal nama ini meski belum kenal siapa orangnya :) Pemasaran? He he he, sebagai kolektor, saya hanya bisa bilang: “Ada Misteri”.

      • Benar misteri dibudayakan oleh pemodal kuat, coba anda simpan media di bursa koran, untung kalau diedarkan saja walau tidak terjual seperempatnya. … heheheh, lebih sadis lagi itu media diterima para bandar tapi disimpan tidak diedarkan ke pengecer alias dijadikan JOJODOG, hal ini rugi besar selain tak dikenal masyarakat tentunya juga uang terbuang. Panjang ceriteranya kalau dijelaskan semuanya, bisa dua halaman koran harian hahahahahah.

      • Ya, bicara media memang bukan hanya soal terjual atau diretur, tapi juga pengenalan. Hrs ada strategi. Makanya saya tulis Pemasaran dgn Memanfaatkan UU 4/1990.

  2. “Majalah Bandung: Didominasi Majalah Berbahasa Sunda dan Majalah Persib NOVANMEDIA” ended up being a good article
    and therefore I was in fact very happy to locate the blog post.
    Thanks a lot,Nicole


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: