Penerbit Baru Media di Bandung Kurang Berani

MASA reformasi yang dicirikan tanda waktu 21 Mei 1998 telah berjalan selama lebih dari sepuluh tahun. Salah satu berkah reformasi, khususnya dalam bidang media, Indonesia telah melahirkan lebih dari 2.000-an nama merek media, meskipun yang masih tetap bertahan masih dalam angka 1.000-an. Dalam tulisan ini, penulis menyamakan media sebagai media massa cetak, pers atau surat kabar. Adapun bentuk (format) media, yaitu koran, tabloid, dan majalah.

Jika mengacu pada jumlah media sebelum masa reformasi yang berjumlah 285-286 media se-Indonesia, di Jawa Barat saja hanya ada sebelas media. Ke-11 media itu, Pikiran Rakyat, Gala, Bandung Pos, Mandala, Mitra Bisnis, Hikmah, Galura, Giwangkara, Kudjang, Mangle, dan Pelajar.

Berdasarkan ukuran kertasnya, sebelas media itu terdiri atas lima koran (Pikiran Rakyat, Gala, Bandung Pos, Mandala, dan Giwangkara), lima tabloid (Mitra Bisnis, Hikmah, Galura, Kudjang, dan Pelajar), dan satu majalah (Mangle). Sementara kalau berdasarkan periode terbitnya, setiap koran merupakan media harian (kecuali Giwangkara yang terbit dua kali dalam seminggu) dan setiap tabloid serta majalah merupakan media mingguan.

Zaman pun berganti dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Nama-nama merek media baru bermunculan, termasuk media yang berubah nama seperti halnya Gala yang menjadi Galamedia dan Kudjang yang menjadi Koran Sunda. Selain itu, ada pengelola (baca: wartawan) yang berpindah-pindah dari media yang satu ke media yang lain karena media yang lama tidak terbit lagi. Ada juga yang berpindah-pindah karena tidak cocok dengan konsep dan/atau cara pengelolaan (perjuangan) medianya.

Format-format yang dulu dianggap “tabu”, kini dianggap “biasa” saja. Pada masa lalu, secara umum di Indonesia, koran dimaksudkan sebagai edisi harian, tetapi kini dijadikan mingguan bahkan bulanan (khususnya bagi pengelola bermodal kecil yang coba-coba berbisnis media). Begitu pun ukuran tabloid yang biasa dimaksudkan sebagai mingguan, kini dijadikan harian.

Namun di balik itu, ada masa-masa ketika media-media baru di kawasan Bandung Raya (maksudnya yang beralamat di kota/kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat) tidak berkembang. Hal itu tampak dari 120-an lebih media yang diterbitkan di Bandung Raya (baca: bukan se-Jawa Barat), media yang beredar hanya itu-itu saja. Selebihnya hanya seumur jagung. Catatan ini tentu tidak termasuk media-media eksklusif seperti media promosi-wisata atau media gratisan (free media).

Terlepas dari itu, ada ciri-ciri media baru terbitan Bandung Raya yang menarik perhatian penulis. Pertama, logo dan tulisan nama merek media antara edisi perdana dan edisi-edisi berikutnya sering berubah-ubah. Belum lagi penulisan edisi yang tidak konsisten. Hal ini mencerminkan ketidaksiapan pengusaha media dalam mengelola bisnis medianya. Kedua, dalam setiap karya jurnalistik yang ditulisnya, sering ada penulisan huruf yang salah, kurang atau lebih. Malah untuk menulis nama lengkap dan/atau inisial penulis (wartawan) pun sering tidak konsisten, yang bukan saja antaredisi tetapi juga antarkolom halaman dalam edisi yang sama. Tampilan lay out dan foto-foto yang disajikan pun tampak kurang artistik untuk tidak mengatakan asal-asalan.

Ketiga, media yang diterbitkan sering berhalaman tipis dan lebih banyak hitam putih daripada berwarna. Keadaan ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan media-media baru terbitan luar Bandung Raya. Keempat, media-media tersebut sering dipenuhi kolom ucapan selamat terbit (terutama dari dinas-dinas) pada awal-awal penerbitannya sehingga mengesankan “media selamat terbit”. Malah setelah itu tidak terbit lagi. Kelima, dari semua itu, tampak konsep yang disajikan tidak jelas, baik untuk menarik perhatian pemasang iklan maupun khalayak pembaca.

Dari ciri-ciri itu, ada satu hal yang menarik perhatian penulis, yaitu bahwa “harga diri” media Bandung lebih pada soal harga (mungkin hal ini pada pihak penjual). Pada tahun 2000-an, jika di Jakarta misalnya, harga media yang Rp 1.500 pada pagi hari, penjual berani menjual Rp 200 hingga Rp 500 pada sore harinya. Hal itu tidak berlaku di Bandung. Istilahnya: take it or leave it.

Lepas dari persoalan harga, ciri-ciri itu memperlihatkan pada kita bahwa media baru terbitan Bandung tampaknya akan kalah bersaing dengan jumlah media baru terbitan luar Bandung yang seakan “menyerang”. Pengusaha baru media di Bandung tampaknya kurang berani dalam berbisnis media. Bahkan mereka cenderung bertahan (defensif) dan tidak menyerang (ekspansif).

Artikel ini dimuat dalam Galamedia edisi 12 Oktober 2009.

3 Comments »

  1. 1
    andrian Says:

    thx informasinya yah..
    tapi saya butuh info yg lebih lengkap lg nihhhh, fokus media yg dibandung!!

  2. 2
    andrian Says:

    thx utk infonya !!!
    saya msh butuh data byk lg nih tentang media di bandung, bisa bantu ??


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: