Majalah Bobo dan Media Anak

Tepat tanggal 14 April 2012 ini, majalah Bobo genap berusia 39 tahun. Untuk tahun 2012, majalah Bobo yang beredisi “Happy Birthday” tersebut terbit dan edar pada hari Kamis, 12 April 2012. Ya, majalah “Teman Bermain dan Belajar” itu memang menemui para pencintanya setiap hari Kamis dalam setiap minggunya.

Kalau membaca majalah Bobo, saya tentu mengingat cerita keluarga Bobo; Paman Kikuk, Husin dan Asta; Ceritera dari Negeri Dongeng (Oki dan Nirmala); Bona: Gajah Kecil Berbelalai Panjang. Ada juga “Arena Kecil” dan “Tak Disangka”. Bahkan dulu ada “Deni Manusia Ikan” dan “Pak janggut”. Oh ya, sejak perkembangan teknologi desain grafis, sebagaimana media-media lainnya, majalah Bobo agak berubah.

Pada masanya (baca: orde baru), keberadaan majalah Bobo diiringi oleh majalah Kuntjung, majalah Ananda, majalah Tom-Tom, dan majalah Kawanku —kelak majalah Kawanku bersegmen remaja. Pemilihan segmentasi bagi media anak-anak ini memang dipengaruhi oleh perkembangan masyarakat dan teknologinya. Kita bisa melihat contoh pada pengelola tabloid Fantasi yang di kemudian hari menjadi tabloid Fantasi Teen (kini, majalahTeen). Selain majalah Bobo, pada era reformasi muncul beberapa majalah anak-anak lainnya.

Berbicara tentang tabloid, media anak-anak berformat tabloid bukan hanya tabloid Fantasi. Pascareformasi pun muncul tabloid Tablo, tabloid Hoplaa, tabloid Bianglala, tabloid Shoutud Dhomir, tabloid Bando, dan koran Berani.

Koran Berani—meskipun berukuran buletin— merupakan koran anak pertama di Indonesia. Tabloid Bando merupakan nama yang diambil dari acara anak-anak “Bando” di ANTV. Tabloid Shoutud Dhomir merupakan media anak yang tergabung dalam tabloid Kebenaran.

Lalu, tabloid Bianglala merupakan media anak yang tergabung dalam PT Atmo Jilisangayu-nya Arsendo Atmowiloto. Tabloid Hoplaa merupakan media anak yang tergabung dalam PT Antar Surya Jaya. Anda tahu kan dengan nama koran Surya-nya Kompas Gramedia Group? Tabloid Tablo? Tampak, tertulis: “Penerbit dan Hak Cipta Indonesia oleh PT Widya Citralikita Uyana (Percetakan: PT Gramedia”).

Ada cerita yang sempat mengharukan saya ketika membaca tabloid Tablo edisi No. 46 Desember 2000 dalam rubrik semacam “Dari Kami” atau “Dari Redaksi”-nya: “…Tapi, pujian bagus itu ternyata masih kurang juga. Kami ingin membuat Tablo lebih bagus lagi, baik isi maupun tampilannya. Sayangnya untuk itu kami butuh waktu lebih banyak untuk mempersiapkan diri. Maka untuk sementara, Tablo terpaksa dihentikan penerbitannya. Kami harap para pencinta Tablo tetap setia dan sabar untuk bertemu kembali di media baru yang lebih oke. Sampai jumpa!…”.

Ya, kenangan itu membuat saya terharu. Bukan apa-apa, pada awal-awal masa reformasi (1998-2001) media-media bermerek baru bak cendawan di musim hujan. Datang dan pergi silih berganti. Padahal kurang apa mereka? Media-media itu bagus-bagus, meskipun ada juga yang asal-asalan. Sayang, ibarat jarum di dalam jerami. Mungkin seperti shock sehingga ilmu pemasaran ibarat ilmu yang baru. Namun, saya bersyukur, media-media baru itu bisa “terselamatkan”.

OK-lah, itu cukup kenangan saya saja. Lain waktu, saya akan bercerita tentang nama-nama media di awal-awal masa reformasi itu. Apalagi, kita akan memasuki bulan Mei. Saya kembali ke cerita media anak saja.

Berbicara tentang tabloid Bando yang diambil dari nama acara anak-anak di ANTV tadi, mengingatkan saya pada pertanyaan: “Mengapa kini anak-anak kita senang menyanyikan lagu-lagu dewasa?”. Bagi saya, mungkin bukan karena anak-anak senang menyanyikan lagu-lagu dewasa. Akan tetapi, lagu anak-anaknya memang tidak ada karena “di-tiada-kan”.

Lihat saja televisi. Apakah televisi-televisi itu menyediakan acara untuk anak-anak? Setelah era tahun 1970-1980-an, artis-artis cilik muncul pada era 1990-an. Sesudah itu? Jadi, kesempatan setiap pencipta lagu untuk berkreasi (menciptakan) lagu anak-anak seakan tertutup. Medianya tidak disediakan. Benarkah? Silakan pengamat mengamati. Kalau saya hanya sekilas saja.

Kalau mau lihat lagi, ada berapa radio anak di Indonesia? Mungkin hanya Kid’s FM Radio Bandung yang hadir. Sebagai kolektor media, persoalan format media plus pemasangan iklan menjadi kendala. Entahlah apa yang sebenarnya terjadi. Soalnya, pada umumnya media anak-anak berformat majalah. (Ini tidak lepas dari survei?!) Namun, melihat kenyataan masa lalu, media anak berformat tabloid memang layak dicoba kembali.

7 Comments »

  1. 1
    Thoriq Says:

    Hmmmm….. Bobo mengiringi sy melewati masa kecil.

  2. 2
    aina Says:

    apakah majalah islam ‘aku anak saleh’ masih terbit?

  3. 4

    semoga bobo makin sukses amiiin…

  4. 5
    ocha Says:

    mbak minta di review dong p
    ortal anak http://www.superkidsindonesia.com

    • 6
      novanmedia Says:

      Terima kasih, akan saya pelajari dulu ya?!.

      PERTAMA, Tadinya blog ini hanya menceritakan media-media koleksi saya. KEDUA, Saya “hanya” bercerita tentang media cetak (koran, tabloid, majalah, dan sejenisnya). KETIGA, Jadi, saya akan mengamati website-nya lebih dahulu.

  5. 7
    yuta69 Says:

    wahaha,, donal bebek, bobo, itu majalah utama saya dulu, walo sbnerny donal itu komik ya, tp ukurannya majalah, terus tabloid fantasi, hopla sama tablo, yg paling keinget sih tablo soalnya isinya bnyak komik ato karikatur gtu, bagus2, trus ada review game, tp pas itu saya gak mudeng game apaan ini soalny msh kecil masih mainnya di sawah, hehe, cuma gmbrnya bagus2 jd suka,, komiknya ada cica-x kalo gk salah salah satunya, kangen lah sama tablo, ada keinget review game sedikit cuma yg baru sadar pernah dimainin itu bloody roar… :’D


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: