Tabloid Agenda Mirip Pers Mahasiswa

Apakah anda pernah mengetahuitabloid Agenda? Tabloid Agenda merupakan salah satu media yang terbit pada awal-awal era reformasi. Di antara anda mungkin pernah mendengar nama-nama seperti Vijaya Fitriyasa, Wien Muldian, dan Rama Pratama. Saya sendiri mengetahui nama-nama itu merupakan nama-nama aktivis mahasiswa pada masa itu. Nah, dalam tabloid Agenda edisi No. 6 Tahun I, 9-15 Juli 1999 yang saya koleksi, tabloid Agenda menulis Vijaya Fitriasa sebagai pemimpin umum, Wien Muldian (wakil pemimpin umum), dan Rama Pratama (pemimpin redaksi).

Pada masa itu, selain membeli tabloid Agenda sebagai salah satu koleksi, saya sebetulnya tertarik dengan media yang satu ini. Ya, kesan saya, tabloid Agenda mirip pers mahasiswa meskipun jelas bukan pers mahasiswa. Apalagi ketika tokoh-tokoh aktivis mahasiswa itu tercantum dalam tabloid Agenda yang dikelolanya. Paling tidak, pada masa itu, saya menganggap bahwa tabloid Agenda merupakan pers mahasiswa yang out of the box: beredar di pasaran luas.

Mengapa kesan saya pada tabloid Agenda itu seperti pers mahasiswa? OK-lah, dalam konteks tertentu, saya membedakan antara pers mahasiswa (di kampus) dan pers remaja (di pasaran umum). Pers mahasiswa masih mengelola “idealisme”, sedangkan pers remaja sudah mengelola “entertainment” —meskipun tidak sesederhana itu.

Isi (content) “idealisme” dalam tabloid Agenda itu misalnya: “Waspada Kampanye AIDS Menyimpang” (judul cover edisi No. 6) yang diperdalam pada rubrik “Agenda Utama”-nya seperti “Dilema Kampanye Anti-AIDS”, “Jadikan Pendidikan Seks Sebagai Kurikulum”, “Konsorsium di Balik Kondom”, Adakah Kepentingan Komersial”, dan “Runtuhnya Dinding Tabu Itu”. Begitupun dalam rubrik-rubrik lain, seperti “Memilih Presiden” (rubrik “Cuplikan”) dan “Gurem Bikin Geram” (bahasan tentang Pemilu dan KPU). Selain itu, kesan saya pada pers mahasiswa adalah pada umumnya terdapat rubrik “Ngintrik” (semacam “Pojok” atau “Sudut”).

Mau contoh rubrik “Ngintrik”? Silakan baca: (1) Pendukung Megawati rame-rame cap jempol darah (…Beraninya Cuma jempol….), (2) Cuma dua stambus accoord diakui KPU (…Stembus Jacob tidak termasuk ‘kan?…), dan (3) Wiranto: Capres main ancam, berarti preman (…Pak Wiranto sering diancam preman ya?…).

Oh ya, dalam tabloid Agenda pun muncul resensi buku “Anas Terjerat Ranjau” yang membahas buku berjudul “Ranjau-Ranjau Reformasi: Potret Konflik Politik Pasca Kejatuhan Soeharto” karya Anas Urbaningrum. Selain itu, ada juga info buku yang dipersembahkan oleh “Pasar Buku”. Nah, saya kira, di antara anda mengenal kata kunci perbukuan dan pasar buku selama ini.

Berbicara tentang tabloid mingguan pembaca muda “Agenda” yang bermoto “Merintis Babak Baru” ini, semula berdesain logo dari kiri ke kanan (horizontal). Dalam perkembangannya, desain logo tabloid Agenda pun berubah menjadi dari bawah ke atas (vertikal). Bukan hanya perubahan desain logo, tetapi juga jumlah halaman, dari 16 ke 24 dan terakhir 32, termasuk jenis kertas dan halaman-halaman berwarnanya. Tabloid Agenda ini benar-benar tumbuh dan berkembang dan kesan saya tampilannya benar-benar dikelola secara profesional.

Tabloid Agenda pun pernah menghadirkan edisi khusus tahun 2000 yang dijadikan sebagai Edisi Panduan Abad 21. Isinya lumayan lengkap dalam konteks sebagai media baru. Ya, seperti edisi khusus koran Media Indonesia (30 Desember 1999) dan koran Kompas (1 Januari 2000) serta beberapa media lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: