Kisah Honorarium dan Bagaimana Media Anda Melayani Konsumennya

“Halo, bisa bicara dengan Pak Novan?” tanya seseorang yang berada di seberang sana. “Ya, saya sendiri, Bu,” jawab saya kepada seseorang yang akhirnya diketahui dari suara seorang perempuan. “Begini Pak Novan. Saya minta dikirim nomor rekening bank Pak Novan untuk transfer honorarium tulisan Bapak. Segera SMS-kan nomor rekeningnya ke nomor handphone ini ya?!”. “Ya, siap,” jawab saya. Singkat cerita, setelah saya mengirimkan nomor rekening saya, jumlah rupiah di rekening saya pun bertambah pada hari yang sama. Kelak saya tahu bahwa hampir satu bulan ke depan, media itu tidak terbit lagi. Saya pun merasa salut dan respect karena media tersebut benar-benar melayani dengan baik dan bertanggung jawab. Beberapa bulan kemudian, ternyata, media itu berganti nama dan sekarang pun masih terbit.

Di balik kisah yang menggembirakan itu, beberapa tahun sebelumnya, sebetulnya saya pernah mengalami cerita yang mengecewakan kepada media yang lain lagi. Saat itu, saya dan para pembaca lainnya memenangkan salah satu kuis yang pemenangnya ditampilkan dalam edisi media yang bersangkutan. Sayang, kalau tidak salah, sebelum hadiah rupiah dikirimkan kepada para pemenang, media itu sudah tidak terbit lagi. Selain karena media tersebut sudah tidak ada lagi di pasaran, saya pun mengetahui keberadaannya setelah mengirimkan fax ke redaksi media yang bersangkutan. Beberapa menit kemudian, seseorang yang berada di kawasan Pulogadung itu menelepon kepada saya: “Pak, surat fax-nya sudah diterima, tetapi media itu sudah tidak terbit lagi.”

Beberapa pekan berikutnya, ternyata si penerbit media itu menerbitkan media yang lain lagi. Seketika itu pula saya mengirimkan surat pembaca melalui fax meskipun saya tidak tahu apakah surat pembaca itu dimuat atau tidak. Isinya bukan tentang “pengaduan”, tetapi berbagi cerita tentang pengalaman itu. (Ah, sama saja ya he he he). Selain karena tidak sempat membeli edisi berikutnya dari media tersebut, beberapa hari kemudian, media “baru” itu pun sudah menghilang lagi.

Saya kira, cerita yang mengecewakan ini mungkin dialami pula oleh anda. Misalnya, ketika cerpen anda dimuat di salah satu media, tetapi media itu sudah tidak terbit lagi sebelum melunasi honorariumnya. Ya, saya tahu cerita-cerita ini dari beberapa media online.

Dari cerita menggembirakan dan mengecewakan tadi, saya sebetulnya ingin berbagi cerita pengalaman: bagaimana pelayanan media anda kepada konsumennya? (Konsumen ini mencakup pembaca dan/atau pemasang iklan). Itu cerminan loh…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: