Koran Gratis! Sebagai Media Iklan

Inilah media iklan pertama yang saya koleksi. Namanya, Koran Gratis!. Edisinya, 1/Th I (Juni 2002). Media yang bernama Koran Gratis! ini berukuran kertas A4 dan berjumlah 4 halaman.

Koran Gratis! yang bermoto “Informasi dan Motivasi Positif” ini diterbitkan oleh Alif Media Corp yang beralamat di Jalan Tubagus Ismail Bawah 31 Bandung 40132. Pengelolanya? Staf redaksi: Nurtan S., M.A. Zaky, Lukman S., M. Indra, dan Tryanto, serta Design & Editing: N. Subagdja-Alifsoft Design. Hanya itu nama-nama pengelola yang tercantum dalam Koran Gratis!.

Dalam Koran Gratis! Edisi 1/Th I (Juni 2002) itu, terdapat iklan-iklan dan artikel-artikel pilihan yang diambil dari buku-buku. Itulah edisi pertama dan terakhir yang saya baca dari Koran Gratis!.

Berbicara tentang media iklan (yang biasanya gratis), saya memiliki pandangan tersendiri. Kalau konsepnya jelas dan tepat, tentu kita semua sepakat. Karenanya, saya tidak akan mengulasnya lebih lanjut. Harap maklum, pihak pengiklan pun tidak mau asal-asalan memajang produknya di media-media iklan yang dibuat tanpa konsep yang jelas dan tepat (meskipun ada kalanya iklan-iklan mereka secara asal-asalan dimuat oleh pemilik/pengelola media iklan). Bukankah di balik itu ada saja pemilik/pengelola media iklan yang justru tidak mau menerima iklan dari produk tertentu. (Ini kasuistis). Kalau dimuat, nanti malah produk-produk lainnya enggan mengiklankan diri. Konsep medianya tidak jelas dan tepat sih. [Ini soal intuisi dan feeling business. Jadi, konsep media iklannya seperti apa dulu.]

Diluar pembicaraan “konsep”, perihal media iklan (dan media-media noniklan dari pengusaha baru), saya lebih tertarik untuk menyoroti pada artikel-artikel yang biasa diambil dari internet (meskipun tetap menuliskan sumbernya). Apa alasannya? Menurut hemat saya, di jaman internet ini hampir setiap orang sudah pernah men-searching tema-tema artikel melalui internet. Ketika artikel yang dimuat di media iklan itu sama atau tidak jauh berbeda dari artikel yang sudah dibacanya di internet, tentu pembaca merasa kecewa. (Misalnya, coba perhatikan, berapa banyak info Wikipedia yang di-copy-paste). “Ah, artikel yang begini sih saya sudah baca,” komentarnya.

Jadi, meskipun tema-tema artikelnya sama, penyajian karya jurnalistik melalui liputan langsung ke nara sumber tampaknya memiliki nilai tersendiri. Ya, nilai tersendiri. Saya kira, itu menjadi daya tarik. Karenanya, berdayakanlah SDM (biasanya reporter atau apa pun namanya dalam media anda). Pengertian “liputan langsung” di sini tentu dalam arti luas, yaitu meliput ke lapangan dan/atau meriset dan membaca buku, lalu dituangkan dalam sebuah artikel yang “baru” (tentu tanpa mengurangi hak cipta). Kreatif, bukan?

[Saya bilang, itu untuk media yang baru. Kalau media yang lama dan mapan secara investasi tentu pandangan saya tidak berlaku. Mengapa? Karena ketika medianya dirasa bosan oleh konsumen, media yang bersangkutan akan segera memperbaikinya. Maklum saja, investasinya masih tersedia untuk menerbitkan edisi-edisi berikutnya].

1 Comment »

  1. 1
    ABS Says:

    beriklanlah di http://www.aampromo.net gratis tanpa daftar langsung tersebar ke 1000 iklan baris


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: