Koran Galamedia

Hari ini, koran Harian Umum Galamedia memasuki edisi No. 001 Tahun XLIV. Berkaitan dengan hal itu, saya ingin memuat kembali tulisan saya (Novan Herfiyana) yang dimuat di Harian Umum Galamedia edisi 15 dan 16 Oktober 2009. Selamat menikmati!

PADA 14 Oktober kemarin, Harian Umum Galamedia, sejak berganti nama dari Gala pada 14 Oktober 1999, genap berusia 10 tahun. Sayang, penulis merasa menyesal ketika satu-satunya koleksi Galamedia edisi perdana itu harus digunting untuk mendokumentasikan salah satu artikelnya. Akhirnya, satu-satunya koleksi Galamedia (meskipun berupa artikel tertanggal 14 Oktober 1999: “Bandung Punya Potensi Wisata Kota”) berhasil “diselamatkan”. Padahal, semestinya Galamedia edisi inilah yang mengandung nilai sejarah karena sehari sebelumnya (13 Oktober 1999) masih bernama Gala tanpa tambahan Media.

Penulis masih ingat ketika 1-2 hari sebelum Gala berganti nama dan format, dua pengelola dari Grup Pikiran Rakyat, Pak Yoyo S. Adiredja dan Pak Heri Askari saling bertukar pendapat (dan tentunya sambil berpromosi) dengan masyarakat melalui salah satu program acara di Radio PR 107,55 FM (kini, 107,5 FM). Segala keinginan masyarakat ditampung dan dituangkan dalam sebuah media bernama Galamedia, meskipun tentu saja konsepnya memang telah direncanakan jauh-jauh hari. “Pokoknya lihat sajalah pada hari Kamis, 14 Oktober 1999 nanti,” ujar Pak Heri pada saat itu.

Berbicara tentang media (surat kabar), penulis menerawang kembali ke masa-masa sebelum reformasi. Pada tahun 1997 itulah penulis tertarik dengan kisah surat kabar The Longboat Observers di Longboat Key (dimuat di majalah Eksekutif Nomor 218, Agustus 1997). Longboat Key hanyalah sebuah pulau kecil di selatan Florida, Amerika Serikat. Luasnya 15 x 1,5 km. Penghuninya pun hanya 9.600 kepala keluarga. Peluang bisnis? Ah paling-paling hanya restoran atau toko serba ada kecil-kecilan.

Namun dalam keadaan kecil-kecilan itu, keluarga Matt Walsh melihat peluang untuk menerbitkan media lokal: The Longboat Observers yang dicetak rata-rata 20.000 sampai 30.000 eksemplar. Selidik punya selidik, keluarga Matt Walsh menilai kawasan pulau ini sebagai sebuah pulau peristirahatan orang-orang berduit, yang pada musim dingin memang diserbu para pendatang yang ingin berlibur. Mereka merupakan pasar pembaca yang potensial. Akhirnya, berdasarkan keuntungan pendapatan inilah keluarga Matt Walsh mulai berekspansi menerbitkan media ekonomi The Gulf Coast Review.

Kisah sukses itu tentu menambah wawasan dan inspirasi bahwa kelak di Indonesia akan semakin diramaikan lagi oleh media-media lokal. Selain karena sudah bebas izin penerbitan, mereka beranak pinak dan mengembangkan jaringan sampai ke pelosok-pelosok daerah. Maklumlah negara kita dapat dikatakan berprovinsi-provinsi dan bahkan ber-kota/kabupaten yang banyak.

PENULIS mencatat, sampai diundangkannya Undang-undang No. 13/2009 tertanggal 16 Januari 2009 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat di Provinsi Papua Barat, negara Indonesia memiliki 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota, yang terdiri atas 403 kabupaten dan 94 kota.

Dalam masa reformasi ini, banyak media telah lahir. Ada yang tumbuh lalu berkembang dan ada pula yang akhirnya mati lagi. Itu sudah hukum alam. Kualitas konsep media dan paradigma pengelolanya turut berperan. Harian Umum Pikiran Rakyat sebagai media terbesar di Jawa Barat pun tidak tinggal diam dan mulai menerbitkan Galamedia “baru” sebagai media lokal Bandung pada 14 Oktober 1999.

Dari sekian banyak segmen media yang tumbuh bak cendawan di musim hujan itu, ada juga media-media lokal. Pada masa ini, menurut pandangan penulis, media lokal tidak hanya berisi laporan-laporan peristiwa dari daerah-daerah yang bersangkutan, tetapi juga menu-menu rubriknya harus bersimbol lokal. Sebutlah nuansa “demografis” Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Pemetaan ini cukup ampuh dilakukan.

Namun seiring dengan “egoisme” masyarakat yang semakin kental nuansa lokalnya, justru kini pendekatan yang sublokal lagi harus disajikan. Bagi sudut pandang warga Kota Bandung, sebutlah Bandung Utara, Bandung Selatan, Bandung Barat, Bandung Timur, dan sebagainya. Dengan sudut pandang pendekatan itu, masyarakat daerah yang bersangkutan akan merasa lebih dekat dengan medianya karena ada faktor kedekatan demografis dan psikografis. Dengan demikian, masyarakat akan lebih memetakan kebaikan dan keburukan daerahnya sehingga dari pemetaan itu pula akan lebih fokus lagi pada daerah yang akan dibangunnya. Tentu saja, pendekatan lokal ini tidak tersaji 100%, karena berita-berita tentang daerah lain masih tetap dapat disajikan sebagai pembanding daerahnya. Dalam hal ini, masyarakat dapat “meneropong” atau “menerawang” daerah lain yang berguna bagi daerahnya sebagai contoh pembanding.

Bahkan bisa saja menu yang lebih lokal lagi. Katakanlah menu kelurahan A (dalam menu Bandung Utara). Seorang pembaca akan langsung tertarik pada berita kelurahan di mana pembaca itu tinggal. Ia pun dapat melihat perkembangan daerahnya karena merasa dekat dengan dirinya. Dengan membaca menu daerah (kelurahan)-nya, ia tidak bermaksud berpikir sempit pada daerahnya saja, karena dengan melihat menu kelurahan (atau kota/kabupaten) di daerah lain, ia dapat melihat perkembangan daerah lain tersebut sebagai contoh pembanding. Adanya pembanding ini diharapkan akan menciptakan kompetisi antardaerah yang semakin meningkat dalam membangun daerahnya.

1 Comment »

  1. 1
    H Says:

    Halo, ingin bertanya mengenai koran galamedia, boleh?


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: