Redaksi Novan Media

Latar Belakang Nama Novan Media

Novan Media bukanlah nama perusahaan media (pers). NovanMedia juga bukanlah nama konsultan media. Sampai saat ini, NovanMedia hanyalah merupakan nama blog yang dibuat dan dikelola oleh seorang kolektor media yang bernama Novan Herfiyana.

Mengapa saya memilih nama NovanMedia? Pada awalnya, saya memang memiliki hobi atau kegemaran untuk mengoleksi media. Ketika teknologi informasi (internet) mewarnai dunia, antara lain melalui email sebagai salah satu produknya, saya berminat untuk membuat email bernama novanherfiyanamedia@yahoo.com. Namun, nama itu ternyata cukup panjang. Akhirnya, saya pun memilih nama novanmedia@yahoo.com. Seandainya pada saat itu saya memiliki kegemaran mengoleksi mobil-mobilan, bisa jadi email saya ialah novanmobilmobilan@yahoo.com atau novanmobil2an@yahoo.com, dan sebagainya (meskipun hal itu belum tentu terjadi karena setiap orang memiliki suasana kebatinannya masing-masing).

Mengapa saya memakai istilah “media” dan bukan “pers”?

Bagi saya, media dan pers mengandung makna yang sama. Kalaupun berbeda, hal itu tergantung pada sudut pandang masing-masing. Menurut sejarahnya, pers (press dalam bahasa Inggris yang berarti mencetak atau cetakan) itu berupa surat kabar (koran, tabloid, majalah, dan sejenisnya). Seiring dengan perkembangan teknologi, selain surat kabar, ada juga radio dan kemudian televisi. Radio dan televisi ini bukan merupakan barang cetakan lagi, tetapi barang elektronik. Karenanya, dalam perkembangannya, istilah media lebih cocok, yaitu media cetak (koran, tabloid, majalah, dan sejenisnya) dan media elektronik (radio dan televisi). Bahkan media online (internet) menjadi media tersendiri di luar media cetak dan media elektronik.

Nah, dari uraian itulah mengapa saya lebih memilih “media” (NovanMedia) daripada “pers” (NovanPers). Lebih dari itu, sesungguhnya ini yang paling mendasar, yaitu bahwa jika di-bahasa-Inggris-kan, “media” tetaplah “media”, sedangkan “pers” menjadi “press”. Itulah alasannya.

Mengapa saya memakai istilah “media” dan bukan “media massa”?

Antara “media” dan “media massa” sesungguhnya bukan memilih di antara dua pilihan. Kedua istilah itu sama saja. Media? Ya, media massa! Lalu, mengapa saya lebih memilih “media” daripada “media massa”? Itu sederhana saja. Istilah “media” lebih singkat daripada “media massa”. Kalau NovanMediaMassa, cukup panjang, bukan? Jadi, kalau saya memakai istilah “media”, sebetulnya dapat dimaknai “media massa”.

Kapan saya mulai mengoleksi media?

Secara sadar atau tidak sadar, saya mulai mengoleksi media sejak awal tahun 1990-an. Pada awalnya, saya tidak menyadari bahwa saya telah menyimpan media. Dalam perkembangannya, pascareformasi, saya seolah tersadarkan bahwa saya harus mengoleksi media. Maklum, jika di era orde baru media yang belum kita beli masih tersedia di pasaran, maka di era reformasi media yang baru terbit justru mudah hilang. Nah, selain kegemaran, saya seolah diamanatkan untuk menyelamatkan media-media itu. Dalam arti, maksud saya mengoleksi media ialah bahwa media yang bersangkutan pernah terbit dalam sejarah per-media-an di Indonesia. Kelak, kita bisa menceritakan keberadaan media itu kepada generasi yang akan datang.

Apakah saya sebagai kolektor media antik?

Jawabannya sudah saya jelaskan pada pertanyaan sebelumnya. Saya bukanlah kolektor media antik. Saya hanya berusaha “menyelamatkan” keberadaan media (terbitan baru) yang pernah hadir di Indonesia. Apalagi kalau media-media itu berupa koran dan/atau tabloid lama, tentu saja sudah tidak tersedia. Kalau majalah, boleh jadi masih tersedia di bursa majalah.

Mengapa saya mengoleksi koran/tabloid dan bukan majalah? Mengapa pula saya hanya mengoleksi media se-Indonesia?

Sebetulnya, tidak juga. Sampai saat ini saya masih menyimpan majalah. Selain itu, saya pun masih menyimpan media luar negeri yang diberikan oleh teman-teman saya.

Mengapa saya lebih memfokuskan diri pada koran/tabloid daripada majalah? Inilah latar belakangnya. Pada awalnya, saya lebih membeli koran dan tabloid. Kalau majalah, saya hanya membeli sesekali. Maklum, pada saat itu (dan hingga kini), harga koran dan tabloid jauh lebih terjangkau daripada majalah. Namun, “pilihan” itu ternyata ada hikmahnya yaitu bahwa untuk majalah ada bursa majalah bekas, sedangkan untuk koran/tabloid tidak ada bursa koran/tabloid bekas. Karena ada bursa majalah bekas, saya pun dapat mengoleksi majalah yang belum sempat saya koleksi. Lebih dari itu, positioning saya ialah bahwa saya sebagai kolektor koran/tabloid. Kalau kolektor majalah, tentu banyak, termasuk (kalau mau) pemilik bursa majalah bekas itu tadi. Apakah anda mencari seorang kolektor koran/tabloid? Saya-lah orangnya. Namun demikian, disebut sebagai kolektor media juga tidak apa-apa.

Lalu, mengapa saya hanya mengoleksi media se-Indonesia? Sebetulnya, itu dapat diartikan sebagai fokus atau segmentasi saja. Kalau se-Dunia tentu tidak fokus. Sebutlah saya mengoleksi media se-Indonesia dan media se-Malaysia. Kalau media se-Amerika Serikat, se-Australia, se-Italia, se-Mesir, dan seterusnya, tentu akan merasa kurang terus. Selain itu, tentu saya tidak bisa memantaunya. Sebaliknya, kalau se-Indonesia, saya masih mampu (berusaha) untuk melengkapi media-media se-Indonesia yang masih kurang. Itulah fokus atau segmentasi.

Bagaimana dengan media kampus (pers mahasiswa), media intern (inhouse media), media gratisan (free media), dan sejenisnya?

Koleksi media saya sebetulnya difokuskan pada media-media yang pada masa orde baru dikelompokkan ke dalam media ber-SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers). Meskipun media-media semacam media kampus (pers mahasiswa), media intern (inhouse media) instansi/perusahaan pemerintah/swasta, media gratisan (free media) memakai surat ijin juga, saya lebih memfokuskan pada media ber-SIUPP tadi. Salah satu alasan penjelasnya ialah bahwa media-media ber-SIUPP tadi beredar di pasaran luas (lapak dan tukang koran). Saya memang tertarik dengan media-media yang dijual di masyarakat. Free market.

Namun demikian, sebagaimana media berformat majalah dan media dari luar negeri (tidak termasuk media lisensi yang diterbitkan di Indonesia), saya masih tetap menyimpan media kampus (pers mahasiswa), media intern (inhouse media) instansi/perusahaan pemerintah/swasta, media gratisan (free media), dan sejenisnya. Itu semua hanya “pilih-pilih” saja. Istilah keren-nya, untuk positioning dan fokus atau segmentasi.

Salam,

Novan Herfiyana

novanmedia@yahoo.com

Kolektor media

15 Comments »

  1. 1

    salam kenal

  2. 4
    andi Says:

    sakam kenal mas dari PPMI Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia

  3. 6
    rahma Says:

    salam kenal
    apakah anda punya arsip majalah saji edisi februari 2004. terima kasih

  4. 8
    sonihadi Says:

    Terimakasih untuk pengelola blog ini, saya yakin insan pers di negeri ini khususnya di Bandung akan berterimakasih kapada anda. Tidak mudah mencari media untuk dijadikan tulisan, selamat dan selamat semoga selalu sukses.

    • 9
      novanmedia Says:

      Terima kasih. Salam sukses juga untuk Pak Soni dan anda/kita semua para pengunjung blog ini.

  5. 10

    boleh tukeran link nggak ya http://www.suaragresik.in

    • 11
      novanmedia Says:

      Kalau mau me-link, silakan link-kan sendiri🙂 Blog saya tdk menyediakan link kecuali kelak kalau saya membahas media-media seperti halaman-halaman sebelumnya.

  6. 12
    Imelda Says:

    Salam kenal dari Gramedia Printing🙂 Kami siap mendukung bisnis ada terutama dibidang percetakan. Baik koran, tabloid, majalah, buku dan promo material. Trmksh

  7. 13
    Abdul Says:

    Sy mencari bukti2/arsip2 apapun yg ada sangkut pautnya dgn http://www.abdulmalikarasy.wordpress.com untuk kemenangan fatimah.no hp sy ada di web itu.trims

  8. 14
    Kin Sanubary Says:

    Salut pa Novan atas koleksi suratkabar, tabloid, dan media cetak lainnya. Salam hangat.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: