Jatuh Bangun Penerbitan Pers

Era reformasi yang ditandai “prasasti” bertanggal 21 Mei 1998 tidak bisa saya lupakan. Pada masa inilah, dampaknya, saya disadarkan untuk menjadi kolektor (pengoleksi) media massa (surat kabar). Dalam perkembangannya, penerbitan pers bak cendawan di musim hujan.

Perihal penerbitan pers, saya juga pernah membaca “surat pembaca” tentang ketidakpuasan karyawan pers pada manajemen pers. Sebutlah, salah satunya, hak-hak karyawan pers diabaikan.

Dalam perkembangannya pula, saya pun pernah menawarkan diri kepada salah satu surat kabar terbitan Bandung. Ilmu otodidak saya, saya upayakan bisa membantu orang lain. Sayang, setelah mengajukan surat penawaran, jawaban tak kunjung tiba.

Sampai akhirnya, ketika saya berburu surat kabar, saya bertemu kawan lama. Salah satu ceritanya, katanya, karyawannya tidak diberikan gaji. Dicampakkan. Ternyata, secara kebetulan, rekan-rekan saya yang bekerja itu justru bekerja di surat kabar yang ingin saya bantu pembenahannya.

Ya, bagi saya, membuat penerbitan pers itu tidak mudah. Dalam soal investasi misalnya, ia haruslah investor yang harus menguasai bisnis pers. Ada passion.

Ternyata, soal investasi, saya mengalami pembenarannya. Saya dan beberapa rekan sempat diikutsertakan untuk membuat penerbitan pers. Surat kabarnya, surat kabar iklan. Nanti, katanya, gaji wartawan diambil dari iklan-iklan yang dibayar.

Wah, pikir saya, tampaknya ia bukanlah investor yang “baik”. Soalnya, kalau tidak ada penghasilan dari iklan, bukankah gaji karyawan pers akan diabaikan. Soal ini, banyak sekali kejadiannya sampai-sampai setiap pihak hanya menjadikannya sebagai pengalaman hidup.

Soal “kesulitan”, sebaiknya dikabarkan sebelumnya. Kita sebagai karyawan pers berjuang bersama-sama. Sepakat, ikuti. Tidak sepakat, jangan ikuti. Itulah akad. Setiap orang punya pilihan. Lucunya, ketika perusahaan rugi, karyawan pers dicampakkan. Sebaliknya, ketika perusahaan untung, manajemen pers (pemilik) melenggang sendirian.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.